Sabtu, 30 Maret 2013

Jambu Air Hutan (Syzygium cumini L.)


Jambu  Air  Hutan (Syzygium cumini L.) termasuk kedalam suku jambu-jambuan (Myrtaceae). Tumbuhan berbuah sepat masam ini dikenal pula dengan nama Jamblang (Jawa), dan Jambu Keling. Batangnya yang kokoh dapat mencapai ketinggian 20 m. Daun kelopak berbentuk lonceng melebar. Buah buni berbentuk lonjong, dengan kulit tipis licin mengkilap, dengan warna merah tua sampai ungu kehitaman. Buahnya biasa di konsumsi segar.  Selain itu, buah yang kaya vitamin A dan C ini juga dapat dijadikan sari buah dan jeli.Kayunya dapat digunakan untuk bahan bangunan, meskipun tidak istimewa dan agak mudah pecah.Juga sering digunakan sebagai kayu bakar.Kulit kayunya menghasilkan zat penyamak (tanin) dan dimanfaatkan untuk mewarnai (ubar) jala.Daunnya kerap digunakan sebagai pakan ternak (Heyne, 1987).


Beberapa bagian tumbuhan juga dipergunakan sebagai bahan obat, tradisional maupun modern. Kulit batang, daun, buah dan bijinya sering kali digunakan sebagai obat kencing manis, diare, dan beberapa penyakit lain. Pohon jamblang juga sering ditanam sebagai pohon peneduh di pekarangan dan perkebunan (misalnya untuk meneduhi tanaman kopi), atau sebagai penahan angin (wind break).Bunga-bunganya baik sebagai pakan lebah madu.

Lempuyang (Zingiber amaricans BL.)


                Lempuyang (Zingiber amaricans BL.) merupakan tanaman herba Indonesia, perennial, batang asli berupa rimpang di bawah tanah, tinggi lebih dari 1 m. Bagian tanaman yang digunakan sebagai obat adalah rimpangnya. Rimpang lempuyang bsa juga dimasak sebagai lauk makan nasi putih, biasanya digunakan untuk lauk makan seorang ibu yang habis melahirkan.Lempuyang memiliki batang semu berupa kumpulan pelepah daun yang berseling, di atas tanah, beberapa batang berkoloni hijau. Kemudian Rimpangnya  merayap, berdaging, gemuk, aromatik. sebelah luar berwarna coklat muda, irisan melintang warna kuning muda,  Rasanya pahit pedas, berbau aromatik.
Tanaman ini terdapat di daerah Asia tropika. Di Jawa dapat tumbuh di daerah dengan ketinggian 1-1200 m dpl, banyak tumbuh sebagai tumbuhan liar di tempat-tempat yang basah di dataran rendah dan tinggi. Perbanyakan: pada umumnya dengan potongan rimpang yang bermata tunas atau anakan yang masih muda setidaknya dengan 1 tunas. Secara alami potongan potongan rimpang yang telah bertunas akan memperbanyak diri dengan biji. Tumbuhan ini akan dapat berkembang secara baik di hutan, kebun, pekarangan dengan intensitas matahari di bawah naungan kurang lebih 11-585 lux.
Rimpang lempuyang yang masih muda dimanfaatkan sebagai lalapan.  Adapun khasiat lempuyang untuk kesehatan antara lain menambah nafsu makan, Penambah darah, obat rematik, alergi terhadap udang/ikan laut, batuk rejan/ kinghus, encok dan bengkak-bengkak. Selain itu lempuyang juga dapat meredakan nyeri lambung yang disertai kejang. Parutan rimpang beserta minyak kelapa dan abu dapat digunakan untuk membalur bagian tubuh yang bengkak sehingga kempes.Kemudian lempuyang juga dapat digunakan untuk memulihkan kondisi wanita yang baru melahirkan, mengobati asma & obat pengurang rasa sakit. 10 gram rimpang segar lempuyang wangi; setelah dicuci, diparut, diperas dan disaring, kemudian hasil saringan ditambah 2 sendok makan madu dan 1/2 gelas air matang (panas), diaduk diminum dua kali sehari pagi dan sore sama banyak.

Selasa, 26 Maret 2013

Hangasa (Amomum dealbatum)


Hangasa (Amomum dealbatum) atau yang biasa dikenal dengan nama Wresah (Jawa) adalah sejenis tumbuhan aromatis anggota sukujahe-jahean (Zingiberaceae). Buahnya yang manis agak masam dan berbau harum khas biasa dimakan dalam keadaan segar; buah mudanya dimakan setelah direbus. Merupakan terna tahunan yang subur, bisa tumbuh hingga 3 m. Daun bentuk jorong atau jorong lonjong. Hangasa hidup liar dan terpencar-pencar di hutan atau kebun talun, terutama pada tanah lembap yang kaya akanhumus. Tumbuhan ini dapat diperbanyak dengan ujung rimpang yang berakar, meski jarang orang yang sengaja menanamnya.
            Buahnya terutama dimakan dalam keadaan segar, disukai karena salut bijinya yang mengandung banyak sari buah yang manis dan (kadang-kadang) agak masam rasanya. Umbut dan pucuk yang muda, perbungaan yang muda, serta buah muda sering direbus, sebagai sayuran atau dimakan dengan sambal. Hangasa juga berkhasiat untuk menyembuhkan sakit mata, air dari pucuknya langsung diteteskan ke mata setiap pagi.

Minggu, 17 Maret 2013

Gadung(Dioscorea hispida)


Gadung (Dioscorea hispida)  termasuk dalam kelompok umbi-umbian (Dioscoreaceae) dan merupakan bahan makanan yang belum banyak dikenal oleh masyarakat, kecuali masyarakat di perdesaan. Tumbuhan gadung menjalar, permukaan batang halus, berduri, warna hijau keputihan. Daun tunggal, lonjong, berseling, ujung lancip, pangkal tumpul, warna hijau.Perbungaan bentuk tandan, di ketiak daun, kelopak bentuk corong, mahkota hijau kemerahan.Buah bulat setelah tua biru kehitaman. Gadung menghasilkan umbi yang dapat dimakan, namun mengandung racun yang dapat mengakibatkan pusing dan muntah apabila salah dalam pengolahannya. Pada umumnya umbi gadung diolah menjadi keripik atau gaplek sebagai makanan khas daerah atau sebagai pengganti makanan pokok, seperti beras dan sagu.
Pemanfaatan umbi gadung sebagai bahan makanan masih sangat terbatas, karena umbi gadung mengandung suatu jenis racun, yaitu dioscorin, diosgenin dan dioscin yang dapat menyebabkan gangguan syaraf, sehingga apabila memakannya akan terasa pusing dan muntah-muntah. Namun dengan dilakukannya penelitian-penelitian terhadap cara penghilangan racun tersebut secara efektif, maka umbi gadung dapat dikonsumsi secara aman. Di Indonesia, khususnya di daerah perdesaan, banyak dikenal cara untuk menghilangkan racun, salah satu caranya adalah dengan  merendam umbi gadung ke dalam larutan garam atau abu. Kemudian setelah itu dijemur, setelah itu umbi gadung direndam kembali didalam air yang mengalir selama 1 hari. Perendaman ini juga dapat dilakukan pada air yang tidak mengalir dengan cara mengganti air rendaman setiap 4 jam sekali. Selanjutnya dilakukan pencucian dengan air yang mengalir.Baru setelah itu umbi gadung siap diolah menjadi produk makanan.
Bagian umbi gadung yang dapat dimakan sekitar 85%. Dibandingkan dengan singkong, umbi gadung segar (basah) mengandung kadar karbohidrat relatif lebih sedikit, tetapi memiliki kadar air dan protein yang lebih tinggi.Menurut pakar tanaman obat, Prof Hembing Wijayakusuma dalam bukunya Tumbuhan Berkhasiat Obat.Umbi gadung bisa digunakan sebagai obat luar atau obat dalam.Pada pemakaian luar, umbi gadung diparut dan ditempelkan pada bagian yang sakit. Untuk pemakaian dalam, 15 sampai 30 gram umbi gadung segar atau 5 gram kering direbus lalu airnya diminum atau dijadikan keripik lalu dimakan, lakukan secara rutin.penyakit yang bisa diatasi dengan gadung adalah rematik, Kencing manis, Kusta, Mulas, Nyeri empedu, Nyeri haid, Radang kandung empedu, dan Kapalan.

Palem Jawa(Ceratolobus glaucescens)

Kingdom    : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom    : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi    : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi    : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas    : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas    : Arecidae
Ordo    : Arecales
Famili    : Arecaceae (suku pinang-pinangan)
Genus    : Ceratolobus   
Spesies    : Ceratolobus glaucescens

    Palem jawa atau rotan beula adalah tumbuhan sejenis rotan yang berwarna merah dan merupakan tumbuhan endemik yang berada di pulau jawa. Palem jawa hidup merumpun, setiap rumpun terdiri dari minimal satu individu palem jawa. Individu palem jawa memiliki batang yang kecil sehingga termasuk rotan kecil (Rudi 2009). Menurut Dransfield, 1974 rotan mencapai keragaman yang tinggi di area yang selalu basah seperti di kawasan paparan sunda terutama di sepanjang pesisir kawah ratu. Pada saat ini, populasi palem jawa hanya dapat ditemukan di kawasan cagar alam sukawayana yang merupakan kawasan konservasi yang ditetapkan sebagai cagar alam karena keberadaan palem jawa di kawasan tersebut.
Palem jawa (Ceratolobus glaucescens) merupakan spesies yang dilindungi di Indonesia karena penyebarannya yang terbatas hany di pulau jawa (FAO 1998; Barlow 2003). Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, palem jawa merupakan salah satu spesies rotan yang dilindungi undang-undang (Mogea et. Al, 2003).
Karena keberadaan palem jawa (ceratolobus glaucescens) yang teancam punah di alam, maka dilakukan upaya untuk menjaga atau dilakukan konservasi palem jawa (ceratolobus glaucescens) di luar habitat aslinya. Menurut damuri dalam buletin kew Vol. 34, budidaya palem jawa (ceratolobus glaucescens) mudah untuk dilakukan dan telah dilakukan upaya konservasi dengan cara mendistribusikannya ke seluruh kebun raya yang berada di dunia. Konservasi di luar habitat asli yang sudah dilakukan yaitu menabur benih palem jawa pada tahun 1971 di kebun raya bogor dan menghasilkan spesises palem jawa dengan tinggi satu meter pada tahun 1973 dan 1974.